Rabu, 19 Februari 2020

PROPOSAL PENELITIAN


MENULIS  TEKS CERPEN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE SCRIPT PADA SISWA KELAS XI MAS SIRNAMISKIN BANDUNG TAHUN AJARAN 2017-2018

Proposal Penelitian
diajukan sebagai bahan pertimbangan penyusunan skripsi
oleh
 Miptah
NIM.  41032121141056





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SENI
FAKUTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA
BANDUNG
2018






MENGKONSTRUKSI  TEKS CERPEN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE SCRIPT PADA SISWA KELAS XI MAS SIRNAMISKIN BANDUNG TAHUN AJARAN 2017-2018

oleh Miptah, Nim 41032121141056

A.           Latar Belakang Penelitian
Kegiatan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sesuai dengan kurikulum 2013 revisi mata pelajaran Bahasa Indonesia secara umum bertujuan agar peserta didik mampu mendengarkan, membaca, memirsa (viewing), berbicara, dan menulis. Maka dari itu, kegiatan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang sangat penting dan harus dikuasai oleh peserta didik.
Dalam materi pembelajaran Bahasa Indonesia, banyak materi pembelajaran yang ditujukan agar peserta didik mampu melakukan kegiatan menulis, di jenjang SMA/MA/SMK misalnya terdapat kompetensi-kompetensi salah satunya dalam silabus SMA Kelas XI, terdapat kompetensi dasar yang menuntut agar peserta didik mampu menulis teks lisan maupun tulisan.
Berdasarkan penemuan di lapangan tempat magang MAS SIRNAMISKIN Bandung, peneliti melihat bahwa hasil proses pembelajaran peserta didik  dalam kegiatan menulis teks cerpen kurang efektif, hal itu bisa dilihat dari nilai hasil latihan mereka yang kurang dan pastinya berdampak pada hasil belajar mereka. Disamping itu faktor yang sangat berpengaruh pada kurangnya hasil belajar siswa dikarenakan proses pembelajaran terlalu banyak disajikan dalam bentuk teori saja, padahal pada prinsipnya pembelajaran yang dikembangkan kurikulum 2013 revisi yang kita tahu bahwa proses pembelajaran harus menyenangkan dan menantang, dan bisa disajikan dengan berbagai model-model pembelajaran yang menarik sebagai penerapanya, sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai dengan baik.
Meninjau pada prinsip umum pembelajaran Bahasa Indonesia kurikulum 2013 revisi, bahwa proses pembelajaran dapat menggunakan berbagai pendekatan, dan proses harus menyenangkan dan menantang guna tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Maka peneliti tertarik untuk menerapkan sebuah model pembelajaran menulis teks cerpen yang sesuai dan relevan guna tercapainya tujuan pembelajaran. Adalah model Cooperative Script yang mana pendekatan ini merupakan pembelajaran yang berfokuskan pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam  memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar yang diharapkan. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara kelompok. Tetapi belajar kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interpendensi efektif  di antara anggota kelompok (Sugandi, 2002: 14, dalam Riyadi Purworedjo,2009:2) yang disini terfokus pada pembelajaran menulis teks cerpen.
Kegiatan mengkonstruksi atau menulis teks cerpen ini terdapat dalam kompetensi dasar (KD) 4.9 tentang mengkonstruksi teks cerpen dengan memerhatikan unsur-unsur pembangun cerpen. Maka dari itu, peneliti bermaksud untuk mengadakan penelitian akan penerapan model pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran menulis teks cerpen guna meningkatkan kemampuan peserta didik dalam proses pembelajaran menulis teks cerpen, sehingga tujuan pembelajaran tercapai dengan baik.
Dalam penelitian ini, peneliti telah menemukan beberapa penelitian-penelitian terdahulu yang meneliti tentang penerapan model pembelajaran Bahasa Indonesia menggunakan model Cooperative Script salah satunya yaitu yang pertama, penelitian yang dilakukan pada tahun 2016 oleh Mokhamad Sodik dalam jurnal penelitian tindakan kelas yang berjudul Implementasi Model Pembelajaran Cooperatipe Script dalam Materi Pembelajaran Menulis Teks Non Sastra Bahasa  Jawa pada Siswa Kelas IV SDN 03 Rebun, Kabupaten Pekalongan dan dengan hasil yang memuaskan dimana dari hasil penelitiannya didapatkan peningkatan nilai keterampilan menulis siswa, yang kedua adalah penelitian yang dilakukan oleh Husnul Khotimah dalam penelitian tentang Upaya Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan melalui Model Cooperative Script dengan Media Flashcard berbasis kearifan lokal pada siswa Kelas IV SDN2 Panjer Tahun ajaran 2015/2016 dan juga dengan hasil yang memuaskan, dimana dari hasil penerapan model pembelajaran ini bisa disimpulkan dari presentase hasil pretest dan posttes peserta didik ada peningkatan. Maka dari itu peneliti tertarik dengan model pembelajaran yang diterapkan dengan model tersebut dan perbedaanya disini, peneliti menerapkan model  tersebut ke dalam materi pembelajaran menulis teks cerpen.
Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, peneliti tertarik untuk mengambil judul penelitian yaitu: Mengkonstruksi Teks Cerpen menggunakan Model Pembelajaran Cooperative Script pada Siswa Kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung Tahun Ajaran 2017/2018.

B.            Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti membatasi ruang lingkup batasan penelitian yang mencakup:
1.    Materi pembelajaran yang diteliti adalah materi menulis teks cerpen Kelas XI.
2.    Model pembelajaran yang digunakan adalah Model pembelajaran Cooperative Script.
3.    Kompetensi Dasar yang digunakan adalah KD 4.9 tentang Mengkonstruksi teks cerpen dengan memerhatikan unsur pembangun cerpen.
4.    Subjek yang diteliti adalah siswa Kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung.
Fokus penelitian ini meliputi:
a.    Aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran menkonstruksi teks cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script.
b.    Hasil pretest dan posttes peserta didik sebelum dan sesudah pembelajaran menulis teks cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script.
c.    Respon peserta didik dan guru tentang model Pembelajaran Cooperative Script yang telah diterapkan.

C.           Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas, peneliti merumuskan penelitian ini sebagai berikut:
1.    Bagaimana aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran  mengkontruksi teks cerpen  menggunakan model pembelajaran Cooperative Script pada siswa kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung?
2.    Adakah peningkatan kemampuan Siswa Kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung dalam kegiatan mengkonstruksi teks cerpen setelah pelaksanaan pembelajaran menggunakan model Cooperative Script dilakukan?
3.    Bagaimana respon peserta didik setelah melakukan pembelajaran mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script pada Siswa Kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung?

D.           Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penelitian ini yaitu untuk memperoleh gambaran dan hasil aktivitas siswa kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung setelah melakukan kegiatan pembelajaran menulis teks cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script  yang diterapkan.
Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam penelitian ini meliputi:
1.    Untuk memperoleh efektifitas atau tidaknya proses pembelajaran mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model pembelajaran  Cooperative Script pada siswa kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung.
2.    Untuk memperoleh data hasil kemampuan siswa sebelum dan sesudah pelaksanaan pembelajaran menulis teks cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script pada siswa kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung dan mendeskripsikan hasilnya.
3.    Untuk memperoleh respon siswa dan guru terhadap model Cooperative Script yang telah diterapkan pada siswa kelas  XI MAS SIRNAMISKIN Bandung.

E.            Manfaat  Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam  penelitian ini meliputi manfaat teoretis dan manfaat praktis, berikut pernyataanya:
1.    Manfaat Teoretis
a.    Manfaat bagi Peneliti
Menambah wawasan pengetahuan tentang penerapan model pembelajaran Cooperative Script dalam kegiatan menulis teks cerpen yang dilakukan oleh peserta didik.
b.    Manfaat bagi Peserta didik
Menambah pengetahuan peserta didik tentang bagaimana proses menulis teks cerpen dengan baik.
c.    Manfaat bagi Guru
Menambah wawasan seputar penerapan pembelajaran model Cooperative Script yang telah diterapkan kepada peserta didik guna meningkatkan kemampuan keterampilan menulis teks cerpen.
d.    Manfaat bagi Sekolah
Memperoleh gambaran tentang model pembelajaran yang telah diterapkan, dan mengetahui efektif atau tidaknya dari hasil penelitian ini.
2.    Manfaat Praktis
a.    Manfaat bagi  peneliti
Menambah  wawasan dan pengalaman dalam melakukan penelitian khususnya penelitian tentang mengkonstruksi teks cerita pendek menggunakan  model Cooperative Script pada siswa kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung.
b.    Manfaat bagi Peserta didik
Memperoleh pengalaman proses belajar mengajar mengkonsruksi teks cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script.
c.    Manfaat bagi Guru
Memperoleh hasil kemampuan siswa dalam proses pembelajaran mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model Cooperative Script.
d.    Manfaat bagi Sekolah
Memperoleh gambaran tentang hasil proses pembelajaran menulis teks cerpen menggunakan model Cooperative script pada siswa kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung.

F.            Anggapan Dasar
Adapun anggapan dasar yang melandasi penelitian ini, antara lain:
1)    Proses pembelajaran yang baik adalah proses pembelajaran yang menekankan  pada aktivitas siswa.
2)    Proses belajar mengajar dikatakan baik apabila di dalam proses pembelajaran itu guru sebagai motivator dan fasilitator menawarkan suatu produk atau model pembelajaran yang baik, dan siswa antusias aktif merespon apa yang guru mereka arahkan. Sehingga materi pembelajaran tersampaikan dengan baik dan tujuan pembelajaran tercapai sesuai yang diharapkan.

G.      Hipotesa Penelitian
Sesuai dengan rumusan penelitian diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
Ho : Tidak terdapat perubahan peserta didik dalam peningkatan keterampilan mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script.
Ha : Terdapat perubahan keterampilan pada peserta didik dalam mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model pembelajaran Coopereative Script.

H.           Teori Landasan
1.             Pengertian Menulis
Menurut Wagiran dan Doyin (2005 : 2) menulis merupakan keterampilan berbahasa yang digunakan dalam komunikasi tidak langsung. Keterampilan menulis ini tidak didaptkan secara ilmiah, namun harus melalui proses belajar dan berlatih. Menulis bukan sebuah pekerjaan yang sulit namun juga bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Untuk memulai menulis, kita tidak harus menjadi peneliti yang terampil. Akan tetapi berlatih menulis juga tidak cukup dilakukan hanya sekali atau dua kali saja. Frekuensi berlatih menulis akan menjadikan seseorang menjadi terampil dalam kegiatan menulis. Tidak banyak orang yang dapat menulis sekali saja. Menulis merupakan sebuah proses. Proses ini melibatkan tahap prapenulis, penelitian, penyuntingan, perbaikan, dan penyempurnaan.
Akhaidah  (1988;2) menyebutkan bahwa keterampilan menulis merupakan keterampilan yang kompleks yang menuntut sejumlah pengetahuan dan keterampilan. Bahkan untuk menulis sebuah karangan yang sederhana, kita harus mengikuti sebuah rangkaian teknis yang sama seperti jika menulis sebuah karangan yang rumit yaitu kita harus memilih topik, membatasinya, mengembangkan gagasan, serta menyajikan dalam kalimat yang runtut dan logis.
Lado (dalam suriamihardja 1997;1) mengemukakan menulis adalah menempatkan simbol-simbol grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dimengerti oleh seseorang kemudian dapat dibaca oleh orang lain yang memahami bahasa tersebut beserta simbol-simbolnya.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan, menulis merupakan kegiatan menuangkan ide atau gagasan dengan menggunakan bahasa sebagai media yang telah disepakati bersama untuk diungkapkan secara tertulis. Menulis merupakan suatu kegiatan yang ekspresif dan produktif. Oleh karena itu, keterampilan menulis harus sering dilatih secara rutin dan berkesinambungan disertai dengan praktik yang teratur agar keterampilan menulis dapat dicapai dengan baik.

2.             Pengertian Cerita Pendek
Sebuah cerita pendek belum tentu dapat digolongkan ke dalam jenis cerita pendek jika ruang lingkup dan permasalahanya yang diungkapkan tidak memenuhi persyaratan yang dituntut oleh cerita pendek. Cerpen adalah wadah yang biasanya dipakai oleh pengarang untuk menyuguhkan sebagian kecil saja dari kehidupan tokoh yang paling menarik perhatian pengarang (suharianto 1982:39).
   Menurut Nursito (1999: 112), cerpen adalah cerita yang hanya menceritakan suatu peristiwa dari seluruh kehidupan pelakunya atau cerita yang pendek, namun tidak setiap cerita yang pendek dapat digolongkan ke dalam cerpen. Cerpen adalah cerita yang pendek dan di dalamnya terdapat pergolakan jiwa pada diri pelakunya sehingga secara keseluruhan cerita bisa menyentuh nurani pembaca yang dapat dikategorikan sebagai sebuah sastra cerpen.
   Ismail (2001:40) menyebutkan cerpen adalah salah satu ragam fiksi atau cerita rekaan yang sering disebut kisahan prosa pendek.
Menurut Abdul Rani dan Maryani (2004:85), cerpen adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. Dalam cerpen diceritakan sepenggal kehidupan tokoh yang penuh pertikaian, peristiwa yang mengharukan dan menyenangkan dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan.
   Dari beberapa pendapat tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa cerita pendek adalah cerita fiksi yang bentuknya pendek dan ruang lingkup permasalahanya menyuguhkan sebagian kecil saja dari kehidupan tokoh yang menarik perhatian pengarang dan keseluruhan cerita memberi kesan tunggal.

3.             Pengertian Menulis Cerita Pendek
Menulis cerpen merupakan salah satu kegiatan menulis kreatif. Yaitu kegiatan menulis yang bertujuan untuk mencapai nilai-nilai artistik, nilai-nilai kesenian (Hartig dalam Tarigan 2008 : 25-26). Pada dsasarnya menulis kreatif sama dengan menulis biasa. Namun dalam menulis kreatif yang perlu mendapat tekanan dan perhatian besar adalah kreativitas. Karena kreativitas sangat penting peranya dalam pengembangan proses kreatif seorang penulis dalam karya-karyanya. Kreativitas ini tertuang dalam ide maupun hasil akhirnya.
   Menulis cerpen memang harus banyak berkhayal karena cerpen merupakan karya fiksi yang berbentuk prosa. Pristiwa-pristiwa yang terjadi dalam cerpen hanya rekayasa pengaranya. Demikian pula dengan pelaku, wktu, suasana, dan tempat terjadinya peristiwa itu pun hanya di reka-reka oleh pengarangnya.
   Cerita dalam cerpen meskipun bersifat khayal, namun ceritanya masih masuk akal sehingga bisa dimungkinkan terjadi. Bahan baku cerpen memang berasal dari kisah-kisah yang benar-benar terjadi dalam  masyarakat.
Willian Maller (dalam Komaidi 2007:7) menyebutkan bahwa proses kreatif seorang peneliti mengalami 4 tahap:
1.    Tahap persiapan
Peneliti sudah sadar apa yang akan ditulisnya dan bagaimana menuliskannya.
2.    Tahap inkubasi
Gagasan yang telah muncul disimpan dan dipikirkan matang-matang dan ditunggu waktu yang tepat untuk menuliskannya.
3.    Inspirasi
Gagasan dan bentuk ungkapanya telah padu.
4.    Penelitian
Segera tuangkan dalam bentuk tulisan setelah inspirasi muncul, yang kemudian direvisi.
Supriyadi (dalam Doyin dan Warigan 2009: 14) berpendapat bahwa penyusunan sebuah tulisan memuat empat tahap, yaitu :
1.    Tahap persiapan (prapenulis)
2.    Tahap inkubasi
3.    Tahap Eiliminasi
4.    Tahap evaluasi
Jadi langkah-langkah menulis kreatif cerpen adalah menemukan ide tau tema penelitian kemudian menangkap dan mematangkan ide tersebut dengan menuliskannya dalm bentuk karya sastra, dan yang terakhir adalah merevisi karya tersebut untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
1.         Unsur-unsur cerita pendek
Cerpen tersusun atas unsur-unsur pembangun cerita yang saling berkaitan erat antara satu dengan yang lainnya. Keterkaitan unsur-unsur pembangun tersebut membentuk totalitas yang abstrak. Kohesi dan kepaduan semua unsur cerpen yang membentuk sebuah totalitas amat menentukan keindahan dan keberhasilan cerpen sebagai suatu cipta sastra. Unsur-unsur tersebut terdiri atas tema, alur (plot), tokoh dan penokohan, latar (setting), sudut pandang (point of view), gaya bahasa (style), dan amanat (Sayuti 1988:3)
1.         Tema
Esten (2000:23) menyatakan bahwa tema adalah sesuatu yang menjadi pikiran, sesuatu yang menjadi persoalan bagi pengarang. Tema merupakan persoalan yang diungkapkan dalam sebuah cipta rasa. Abdul Rani dan Maryani (2004:86) berpendapat bahwa tema adalah inti pokok yang menjadi dasar pembangunan cerita. Keberadaan tema memiliki posisi atau kedudukan penting dalam sebuah cerita. Untuk memahaminya, kita perlu membaca cerita tersebut dengan cermat. Sedangkan menurut Suharianto (2005:27), tema adalah gagasan inti. Bisa disamakan dengan pondasi sebuah bangunan rumah. Tema adalah sebuah ide pokok, pikiran utama sebuah cerpen. Tema yang baik yaitu untuk cerpen adalah tema yang mengangkat masalah yang ada di masyarakat, mampu mendeskripsikan cerita yang ditawarkan kepada pembaca dan menyajikan keseluruhan tema dari cerita.
2.         Alur atau Plot
Esten (2000:26) menyatakan bahwa alur adalah urutan (sambung-sinambung) peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita rekaan. Abdul Rani dan Maryani (2004:86) berpendapat bahwa alur adalah pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab-akibat.
Suharianto (2005:18) mengemukakan bahwa alur atau plot adalah cara pengarang menjalin kejadian-kejadian secara berurutan dengan memperhatikan hukum sebab-akibat sehingga merupakan satu kesatuan  yang  padu, bulat, dan utuh.
Plot terdiri dari lima bagian:
a.     Pemaparan atau Pendahuluan Bagian cerita tempat pengarang mulai melukiskan suatu keadaan yang merupakan awal cerita.
b.    Penggawatan
Melukiskan tokoh-tokoh dalam cerita tersebut. Mulai terasa ada konflik.
c.     penanjakan
Konflik yang memulai memuncak.
d.    Puncak atu klimaks Peristiwa mencapai  puncaknya.
e.     Peleraian
Pemecahan dari semua peristiwa yang terjadi dalam cerita.
Alur yang baik yaitu alur yang menarik dari segi permainan alurnya, ada tegangan dan kejutan serta pembayangan yang akan terjadi, dan juga atmosfir yang pas ketika terjadinya peristiwa.
3.    Tokoh dan penokohan
Abrams (dalam Nurgiyantoro 1994:165) menyatakan bahwa tokoh adalah orang-orang yang ditampilkan dalam karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Sedangkan menurut Sudjiman (dalam Harjito 2002:11), tokoh adalah  individu  rekaan yang mengalami peristiwa dalam cerita.
Menurut Esten (2000:27), penokohan ialah bagian cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak tokoh-tokoh dalam cerita. Sumardjo (dalam Gunarsa dkk 1985:46-47) menyebutkan bahwa penokohan dalam karya sastra berbeda dengan penokohan dalam sehari-hari. Penokohan dalam karya sastra merupakan penokohan yang dipilih dan diselesaikan pengarang dengan meningkatkan unsur-unsur kesehariannya.
Penokohan menurut Suharianto (2005:27), adalah penciptaan citra tokoh dalam cerita. Tokoh harus tampak hidup dan nyata sehingga pembaca merasakan kehadirannya. Penokohan yang di dalamnya terdapat perwatakan sangat penting bagi sebuah cerita. Ia diibaratkan seperti mata air kekuatan sebuah cerpen. Pada dasarnya sifat tokoh ada dua macam : sifat lahir (rupa, bentuk) dan sifat batin (watak, karakter). Kedua sifat tokoh tersebut bisa diungkapkan dengan berbagai cara :
a.     tindakan, ucapan, pikiran.
b.    tempat tokoh itu berada.
c.     benda-benda di sekitar tokoh.
d.    kesan tokoh lain terhadap dirinya.
e.     deskripsi langsung secara naratif oleh pengarang.
Akhadiah (1994:12) menyebutkan penokohan atau perwatakan adalah pelukisan tokoh cerita, baik keadaan lahir maupun batinnya termasuk keyakinannya, pandangan hidupnya, adat istiadat, dan sebagainya. Ada tiga cara yang digunakan pengarang untuk melukiskan watak tokoh cerita, yaitu dengan cara langsung, tidak langsung, dan kontekstual.
a.     Langsung : pengarang langsung melukiskan keadaan dan sifat si tokoh (cerewet, nakal, baik, berambut panjang, berkulit putih, dan lain-lain).
b.    Tidak langsung : pengarang secara tersamar memberitahukan keadaan tokoh cerita (pikiran, cakapan, tingkah laku, penampilan) dan penceritaan dari tokoh yang lain.
c.     Kontekstual : yaitu bahasa yang digunakan pengarang untuk mengacu kepada tokoh.
Tokoh dan penokohan yang baik yaitu yang mampu menggambarkan secara nyata tokoh yang ada di dalam peristiwa dan mampun membawa pembaca merasakan peristiwa yang terjadi di dalam cerpen.
4.    Latar atau setting
Menurut Laksana (2009:63), latar adalah waktu, tempat, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerpen Tinambunan, dkk. (1996:11) mengemukakan bahwa latar adalah tempat
cerita, waktu, situasi atau suasana cerita dan masyarakat tempat tokoh berada.
Suharianto (2005:27) mengungkapkan bahwa latar atau setting adalah segala keterangan mengenai waktu, ruang, suasana dalam sebuah cerita. Karena latar bersatu dengan tema dan plot untuk menghasilkan cerpen yang gempal, padat, dan berkualitas.
Latar dibedakan menjadi tiga macam :
a.         latar waktu (masa): waktu atau masa tertentu ketika peristiwa dalam cerita itu terjadi.
b.         latar tempat: adalah lokasi atau bangunan fisik lainnya yang menjadi tempat terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita.
c.          latar suasana: adalah salah satu unsur intrinsik yang berkaitan dengan keadaan psikologis yang timbul dengan sendirinya bersamaan dengan jalan cerita.
Kategori latar/setting yang baik yaitu sesuai dengan peristiwa. Dalam hal ini meliputi tepat dalam memilih tempat terjadinya peristiwa, tepat memilih waktu yang memiliki tampakan atmosfir bagus terjadinya peristiwa, dan tepat menggambarkan suasana yang mendukung peristiwa.
5.    Sudut pandang
Aminudin (2009:90) mengemukakan bahwa sudut pandang adalah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkan. Nurgiyantoro (tanpa tahun:248) juga menyebutkan bahwa sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik dan siasat yang sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya.
Menurut Suharianto (2005:27), sudut pandang pengarang ada beberapa jenis, tetapi yang umum adalah :
a.     Sudut pandang orang pertama
Lazim disebut “poin of view” (Aku, Saya).
b.    Sudut pandang orang ketiga
Biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia” / “dia” / langsung menyebut namanya (tokohnya).
c.     Sudut pandang campuran
Pengarang membaurkan antara pendapat pengarang dan tokoh. Seluruh kejadian dan aktivitas tokoh diberi komentar dan tafsiran, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang diceritakan.
d.    Sudut pandang yang berkuasa
Yaitu teknik yang menggunakan kekuasaan si pengarang untuk menceritakan sesuatu sebagai pencipta. Sudut pandang ini membuat cerita sangat bervariatif dan lebih cocok untuk cerita bertendens.
Jadi sudut pandang yang baik yaitu yang memberikan perasaan kedekatan
tokoh, baik dalam menjelaskan kepada pembaca siapa yang dituju dan menunjukkan perasaan tokoh kepada pembaca.
6.    Gaya bahasa
Minderop (2005:51) mengemukakan bahwa gaya bahasa yaitu semacam
bahasa yang bermula dari bahasa yang biasa digunakan dalam gaya tradisional dan literal untuk menjelaskan orang atau objek. Dengan menggunakan gaya bahasa, pemaparan imajinatif menjadi lebih segar dan berkesan.
Suharianto (2005:26) berpendapat bahwa gaya bahasa merupakan sarana pengarang mengajak pembacanya ikut serta merasakan apa yang dilakukan oleh tokoh cerita. Laksana (2009:64) menyebutkan bahwa gaya bahasa adalah gaya khas yang dimiliki oleh pangarang dalam menyampaikan pikiran dan perasaan. Cara pengarang menggunakan bahasa untuk menghasilkan cerpen atau karya fiksi yang lain dinamakan gaya bahasa.
Jadi, gaya bahasa yang baik dalam menulis cerpen yaitu gaya bahasa yang mengandung unsur emotif bersifat konotatif, mengedepankan dan mengaktualisasikan sesuatu yang dituturkan dan tepat dalam memilih ungkapan yang mewakili sesuatu yang diungkapkan.
7.    Amanat
Laksana (2009:64) berpendapat bahawa amanat adalah ajaran yang ingi disampaikan pengarang kepada pembaca. Suharianto (2005:17) menyebutkan bahwa amanat dapt disampaikan secara tersirat maupun tersurat. Esten (2000:22) mengatakan bahwa amanat adalah pemecahan suatu tema. Di dalam amanat terlihat pandangan hidup dan citacita pengarang.
Jadi, amanat yang baik yaitu yang dapat menyentuh hati pembaca, sehingga
pembaca memahami nilai-nilai yang terkandung di dalam cerpen baik secara
tersurat maupun tersirat.

4.             Pengettian Model pembelajaran
Menurut Joyce (dalam Trianto 2007:5), model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film-film, kurikulum dan lain-lain.
Selanjutnya  Joyce menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarahkan kita dalam mendesain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Arends (dalam Suprijono 2009:46) berpendapat bahwa model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Selanjutnya, Suprijono (2009:46) mengatakan bahwa model pembelajaran dapat diartikan pula sebagai pola yang digunakan untuk penyusunan kurikulum, mengatur materi, dan memberi petunjuk kepada guru di kelas. Salah satu ahli yaitu Arend (dalam Trianto 2007:68), mengemukakan bahwa pembelajaran berdasarkan masalah/Problem Based Instruction (PBI) merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang mengajarkan siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyususn pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri, berketerampilan berpikir tingkat tinggi, mengembangkan kemandirian, dan percaya diri. Jadi, model Problem Based Instruction yaitu model pembelajaran yang menggunakan lingkungan sekitar siswa sebagai stimulus guna mendapatkan respon dari siswa. Stimulus tersebut berupa permasalahan yang dapat diselidiki dan diselesaikan oleh siswa sebagai respon atau reaksi dari siswa. Pengalaman/proses memecahkan/menyelesaikan masalah yang dialami siswa inilah yang akan membantu siswa menemukan tujuan pembelajaran yang sedang dilakukan. Model sinektik yaitu model pembelajaran yang kreatif. Artinya model pembelajaran ini menitikberatkan pada proses kreativitas siswa. Cara siswa memecahkan sebuah permasalahan dengan cara lain, yaitu dengan cara rasional dan intelektual yang dibantu dengan cara irrasional dan emosional. Menurut Gordon (dalam Hastuti 1996:155) hubungan kreativitas dengan proses sinektik dapat memunculkan proses kreatif menuju kesadaran dan mengembangkan secara nyata kapasitas terhadap individu dan kelompok. Gordon (dalam Haryati 2005:31) mengemukakan bahwa sinektik berarti menghubungkan atau menyambung. Jadi, model pembelajaran ini merupakan upaya pemahaman menulis cerpen melalui proses metaforik dan analogi yang menekankan keaktifan dan kreativitas siswa.
5.             Pengertian Model Pembelajaran Cooperative Script
Salvin (dalam Isjoni, 2009: 15) mengemukakan, “in cooperative learning metods, student work together in four member team to master material initially presented by the teacher.” Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa kooperative learning adalah salah satu model pembelajaran di mana dalam sistem belajar dan bekerja dalam keleompok-kelompok kecil yang berjumlahkan 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar.
Pembelajaran (kooperative lerning)  merupakan sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara kelompok. Tetapi belajar kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interpendensi efektif  di antara anggota kelompok (Sugandi,2002: 14, dalam Riyadi Purworedjo,2009:2)
Menurut pendapat Lie,A. (2008: 29) bahwa model pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran cooperative learning yang membedakanya dengan pembagian kelompok yang dilakukan alasan-alasan. Pelaksanaan prosedur model cooperative learning  dengan benar-benar akan memungkinkan mendidik mengelola kelas dengan lebih efektif.
Metode Cooperative Script adalah salah satu dari beberapa metode yang ada di model
pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning). Metode ini dikemukakan oleh Dansereau dan kawan-kawan (2007). Pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkonstruksi konsep, menyelesaikan persoalanatau inkuiri. Adapun pengertian Pembelajaran Kooperatif adalah sebagi berikut:
1)    Pembelajarn kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.
2)    Pembelajaran Kooperatif adalah pembelajaran yang menuntut kerjasama siswa dan saling ketergantungan dalam struktur, tugas, tujuan dan hadiah.
3)    Sedangkan menurut Slavin, pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang beranggotakan 4 – 6 orang dengan struktur kelompok heterogen.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan adanya kerjasama antara siswa dalam suatu kelompok kecil yang bersifat heterogen untuk mencapai tujuan belajar bersama. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlihat secara aktif dalam proses berfikir dalam kegiatan belajar mengajar.
 Beberapa ahli menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tidak hanya unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit, tetapi juga sangat berguna untuk menumbuhkan kemampuan berfikir kritis, bekerjasama dan membantu teman. Selain itu keterlibatan siswa secara aktif pada proses pembelajaran dapat memberikan dampak positif terhadap siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
Menurut Dansereau dan kawan-kawan  Cooperative Script adalah suatu cara bekerjasama dalam membuat naskah tulisan tangan dengan berpasangan dan bergantian secara lisan dalam mengintisarikan materi-materi yang dipelajari.
Sedangkan menurut Slavin RE (2005) Cooperative Script adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian peran sebagai pembaca atau pendengar dalam mengintisarikan bagian-bagian yang dipelajari. Dengan metode ini, siswa dapat bekerja atau berpikir sendiri tidak hanya mengandalkan satu siswa saja dalam kelompoknya. Karena setiap siswa dituntut untuk mengintisarikan materi dan mengungkapkan pendapatnya secara langsung dengan patnernya.

6.             Sintak Model Pembelajaran Cooperative Script
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam metode pembelajaran Cooperative Script adalah sebagai berikut :
1)    Guru membagi siswa untuk berpasangan.
2)    Guru membagikan wacana / materi kepada setiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.
3)    Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
4)    Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak / mengoreksi / menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat / menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
5)    Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan seperti di atas.
6)    Kesimpulan siswa bersama-sama dengan guru.
7)    Penutup Pendekatan Cooperativ Script membantu para siswa menemukan makna dalam pelajaran mereka dengan cara saling bekerja sama dengan teman kelompoknya, sehingga apa yang mereka pelajari melekat dalam ingatan untuk meningkatkan kemampuan membaca teks non sastra.
7.             Aktivitas Siswa dalam Proses Pembelajaran
Untuk menjawab rumusan masalah tentang bagaimana aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran, maka peneliti membutuhkan teori tentang apa saja aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik ketika berlangsungnya proses pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran diperlukan aktivitas, sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat. Berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak ada yang  namanya belajar kalau tidak ada aktivitas. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting di dalam interaksi belajar-mengajar (Sardiman 2016: 96).
Sekolah adalah salah satu pusat kegiatan belajar. Dengan demikian, di sekolah merupakan arena untuk mengembangkan aktivitas. Banyak jenis aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa di sekolah. Aktivitas siswa tidak cukup hanya mendengarkan dan mencatat seperti yang lazim terdapat di sekolah-sekolah tradisional. Paul B.Diedrich (dalam Sadirman 2016 : 100) membuat suatu daftar yang berisi 177 macam kegiatan siswa yang antara lain dapat digolongkan sebagai berikut:
1.    Visual activities, yang termasuk di dalamnya misalnya, membaca, memerhatikan gambar-gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.
2.    Oral activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
3.    Listening aactivities sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
4.    Writing activities, seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.
5.    Drawing  activities, misalnya: menggambar, memnuat grafik, peta, diagram.
6.    Motor activities, yang termasuk di dalamnya antara lain: melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.
7.    Mental activities, sebagai contoh misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
8.    Emotional activities, seperti misalnya: menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah berani, tenang, gugup.
Jadi dengan klasifikasi aktivitas seperti diuraikan di atas, menunjukan bahwa aktivitas di sekolah cukup kompleks dan bervariasi. Kalu berbagai kegiatan tersebut dapat diciptakan di sekolah, tentu sekolah-sekolah akan lebih dinamis,
Tidak membosankan dan benar-benar menjadi pusat aktivitas belajar yang maksimal dan bahkan akan memperlancar perananya sebagai pusat dan transformasi kebudayaan. Tetapi sebaliknya ini semua merupakan tantangan yang menuntut jawaban dari para guru. Kreativitas guru mutlak diperlukan agar dapat merencanakan kegiatan siswa yang sangat bervariasi itu.
8.             Pretes dan Postes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 1993: 123).
Menurut Hamzah B Uno (2012: 29) tes adalah seperangkat tugas yang harus dikerjakan atau sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta didik untuk mengukur tingkat pemahaman dan penguasaan terhadap cahupan materi yang dipersyaratkan dan sesuai dengan tujuan pembelajaran tertentu.
Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tes tersebut merupakan sebuah tugas yang harus dikerjakan oleh siswa dengan tujuan untuk mengukur penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran. terkadang guru melakukan tes kepada siswa di awal kegiatan pembelajaran atai di akhir pembelajaran. bahkan mungkin saja guru tidak melakukan tes sama sekali setiap mengakhiri kagiatan pembelajaran. semua itu bisa saja, namun sebagai guru profesianal, peneliti yakin semua guru tentu melakukan tes kepada siswa. Adalah pretes dan postes yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita, yakni tes awal dan tes akhir.
a.    Pre Tes
Pre Tes adalah seperangkat tugas yang harus dikerjakan siswa atau bisa juga berupa pertanyaan yang diberikan di awal memulainya kegiatan pembelajaran. Tujuan dilakukanya Pre Tes tersebut adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman atau kemampuan awal yang dimiliki siswa terhadap materi pembelajaran yang akan dipelajari.
Soal Pre Tes biasanya mengacu pada tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Bentu soal Pre Tes biasanya berupa pilihan ganda atau uraian. Jumlah soal Pre Tes biasanya tergantung kebijakan guru, yang perlu diperhatikan agar ketika siswa mengerjakan Pre Tes tidak mengurangi waktu kegiatan pembelajaran.
Perolehan siswa terhadap nilai Pre Tes ini tidak akan sama dengan Pos Tes. Bisa saja nilai Pre Tes masuk kedalam kreteria minimal atau bahkan lebih. Karena, bisa saja siswa membaca buku pelajaran sebelumnya, memiliki pengalaman terkait dengan materi yang dipelajari, dan bisa saja siswa sudah mencari materi tersebut di internet.
Dengan nilai Pre Tes tersebut guru akan memperoleh gambaran tentang jumlah siswa yang sudah menguasai sebagai atau materi secara keseluruhan dan siswa yang belum sama sekali menguasai materi yang akan diajarkan tersebut.
b.    Postest
Post Tes adalah sejumlah tugas yang harus dikerjakan siswa bisa berupa pertanyaan yang harus dijawab siswa setelah proses kegiatan pembelajaran berakhir. Tujuan dari Post Tes tersebut adalah untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran, serta untuk mengetahui tingkat daya serap siswa terhadap materi yang dipelajari.
Soal Post Tes yang diberikan guru bisa saja sama dengan soal Pre Tes sebelumnya. Dengan membandingkan nilai Pre Tes dengan Post Tes maka guru akan memperoleh perbandingan hasil evaluasi siswa.
Biasanya nilai Post Tes siswa akan meningkat, bila siswa mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Sebaliknya siswa yang kurang serius dalam mengikuti kegiatan pembelajaran akan memperoleh nilai Post Tes yang tidak jauh berbeda dengan sebelumnya.
Mengani jumlah soal dan bentuk soal Post Tes sekali lagi semua mengacu pada tujuan pembelajaran yang sudah disusun oleh guru.

9.             Teori Respon
Menurut Letari dan Yudanegara (2017 : 93), Respon adalah suatu sikap yang menunjukan adannya partisipasi aktif untuk melibatkan diri dalam satu kegiatan (pembelajaran). Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000: 143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

I.              Metodologi Penelitian
1.             Populasi dan Sampel
a.    Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung.
b.    Sampel penelitian ini menggunakan sampel purposive sampling yang diteliti hanya satu kelas yaitu siswa kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung.
2.             Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian Pre-Eksperimen bentuk desain one grup pretest and posttes design (satu kelompok Pretest-Postest).
Skema dari penelitian ini adalah:
Pretest
Treatmen (perlakuan)
Posttest
O1
X
O2
Keterangan.
O1       : Tes awal (pretest)
X         : Treatment (perlakuan) pembelajaran dengan menggunakan model
  pembelajaran Cooperative Script.
O2       : Tes akhir (posttest)
Pengaruh perlakuan X dapat diketahui dengan membandingkan antara hasil O1 dan O2 dalam situasi terkontrol.
Analisis data yang digunakan yaitu kecenderungan memusat,dengan menggunakan rumus Mean, yaitu:

X=?X
N
Keterangan
X         : Jumlah skor
N         : Banyaknya individu
?x         : Rata-rata skor
3.             Teknik Penelitian
a.              Teknik pengumpulan data
1.    Teknik Observasi
Untuk memperoleh data aktifitas peserta didik, maka digunakan teknik observasi, dimana peneliti menganalisis aktivitas-aktivitas peserta didik ketika proses pembelajaran mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model Cooperative Script ini berlangsung. Sebelum observasi dilaksanakan peneliti menyiapkan instrumen berupa lembar observasi yang di dalamnya terdapat butir-butir aktifitas siswa yang akan dianalisis ketika proses pembelajaran dilakukan.
2.    Teknik tes
Untuk memperoleh data hasil kemampuan peserta didik, maka digunakan pretest dan posttes yaitu dengan teknik tes, di mana teknik ini dilakukan guna untuk memperoleh data kemampuan peserta didik sebelum dan sesudahnya kegiatan pembelajaran mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model Cooperative Script dilakukan. Teknik tes dilakukan sebelum dan sesudah pembelajaran dilaksanakan, dengan cara memberikan lembar tes kepada peserta didik kemudian peserta didik  mengerjakan lembar tes tersebut, dan mengumpulkanya kembali untuk dianalisis oleh peneliti.
3.    Teknik angket
Untuk memperoleh data respon peserta didik, maka digunakan teknik angket, dimana teknik ini dilakukan untuk memperoleh respon peserta didik tentang bagaimana tanggapan mereka soal model pembelajaran yang diterapkan. Instrumen yang digunakan untuk teknik angket adalah lembar angket. Lembar angkeet yang telah disusun oleh peneliti kemudian dibagikan kepada peserta didik untuk diisi, setelah mengisi lembar angket tersebut, kemudian peserta didik mengumpulkan kembali lembar angket yang telah diisi kepada peneliti.
b.             Teknik Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan setelah pengumpulan data selesai, data yang dimaksud adalah data aktivitas siswa melalui lembar observasi, data hasil kemampuan siswa melalui nila pretest dan posttest dalam lembar tes, dan data respon siswa melalui lembar angket. Pengolahan data yang dilakukan peneliti terbagi menjadi tiga, yaitu:
1)   Dari rumusan masalah pertama peneliti mengolah data aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script dengan langkah-langkah yang penulis lakukan sebagai berikut:
a.    Mengumpulkan data aktivitas peserta didik dalam mengamati objek yang akan dilaporkan pada proses pembelajran mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script;
b.    Mengklasifikasi data hasil aktivitas peserta didik dalam mengamati objek yang akan dilaporkan pada proses pembelajaran mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script.
c.    Menganalisis data aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script.
d.    Menyimpulkan data aktivitas peserta didik.
2)   Dari rumusan yang kedua peneliti mengolah data kemampuan peserta didik melalui pretes dan postes. Pengolahan data yang peneliti lakukan dalam mengolah data pretes dan postes yang berupa data kuantitatif yaitu menggunakan teknik pengolahan data kuantitatif deskriptip. Teknik pengolahan data kuantitatif deskriptif dimaksudkan untuk mengetahui hasil nilai pretes dan postes peserta didik yang mana dari hasil keduanya diperbandingkan dengan menghitung jumlah rata-rata menggunakan rumus mean, sehingga diperoleh data hasil kesimpulannya. Lalu selanjutnya dari hasil kesimpulan tersebut, peneliti akan menjabarkan data yang diperoleh, sehingga data tersebut bisa dipahami secara sederhana.
3)   Dari rumusan yang ketiga Peneliti mengolah data terkait hasil respon siswa terhadap pembelajaran menulis teks cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script yang telah disajikan dalam instrumen lembar angket.
Adapun langkah-langkah analisisnya adalah sebagai berikut:
a.    Mengumpulkan lembar angket yang telah diisi oleh siswa;
b.    Mengklasifikasikan hasil angket;
c.    Menganalisis hasil angket;
d.    Menyimpulkan hasil angket.
J.        Instrumen Penelitian
1.        Lembar Observasi
Instrumen observasi kemampuan siswa dalam mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model pembelajran Cooperative Script di kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung Tahun Pelajaran 2017/2018.


Tabel I. Lembar Observasi Aktivitas Siswa.
No.
Kriteria
Aspek yang Dinilai
Ada
Tidak Ada



1.




Visual activities
Membaca


Memerhatikan Gambar Demontrasi


Percobaan


Pekerjaan Orang Lain







2.





Oral activities
Menyatakan


Merumuskan


Bertanya


Memberi saran


Mengeluarkan pendapat


Mengadakan wawancara


Diskusi


Interupsi





3.



Listening activities
mendengarkan uraian


Mendengarkan percakapan


Diskusi


Mendengarkan musik


Mendengarkan pidato




4.


Writing activities
Menulis cerita


Karangan


Laporan


Angket


Menyalin


5.
Drawing activities
Menggambar


Membuat grafik


Peta


Diagram





6.



Motor activities
Melakukan percobaan


Membuat kontruksi


Model mereparasi


Bermain


Berkebun


Beternak





7.



Mental activities
Menanggapi


Mengingat


Memecahkan soal


Menganalisis


Melihat hubungan


Mengambil keputusan






8.




Emotional activities
Menaruh minat


Merasa bosan


Gembira


Bersemangat


Bergairah


Tenang


Gugup


Berani




2.             Lembar Tes
No
Kompetensi Dasar
Indikator
1


4.9  Mengkonstruksi Teks Cerpen dengan memerhatikan unsur pembangun cerpen.
·      Mengidentifikasi cerpen dengan memerhatikan unsur-unsur pembangun cerpen
·      Menyusun kembali cerpen dengan memerhatikan unsur-unsur pembangun cerpen



Tabel II. Lembar  Penilaian Pretes dan Postes Pengetahuan Siswa
No.

Instrumen Soal
Pretes
Postes
Pengetahuan

Pengetahuan
1
Apa yang dimaksud dengan unsur pembangun cerpen.






2
Sebutkan apa saja unsur-unsur pembangun cerpen.






3
Jelaskan nilai-nilai kehidupan dalam cerpen.






Jumlah



Tabel III. Lembar Penilaian Pretes dan Postes Keterampilan Siswa
No.

Aspek Penilaian
Pretes
Postes
Keterampilan

Keterampilan

1
Struktur teks cerpen






2
Kesesuaian isi teks cerpen dengan topik yang diberikan.






3
Ketepatan pemakaian kaidah kebahasaan pada teks cerpen.






Jumlah



3.             Lembar Angket
Instrumen angket penelitian respon siswa kelas VIII terhadap penggunaan media iklan audio visual dalam menulis teks persuasi. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif.
Nama : …………………
Kelas : …………………
Pilihlah jawaban dari pertanyaan di bawah ini dengan (√) jika “iya” dan (X) jika “tidak”.
Tabel IV. Lembar Angket.
No.
Kriteria
Pertanyaan
Ya
Tidak
1
Kepuasan merespon
·      Saya senang menulis cerpen menggunakan model Pembelajaran Cooperative Script.


·      Penerapan model pembelajaran Cooperative Script dalam menulis teks cerpen membuat suasana kelas lebih menyenangkan dan tidak membosankan


2
Kemauan untuk merespon
·      Saya bisa membuat tulisan yang baik dengan menggunakan model pembelajaran Cooperative Script.


·      Dengan model pembelajaran Coopeerative Script ini saya lebih mudah untuk menentukan judul, tema dan kalimat yang akan ditulis


3
Kesudian untuk merespon
·      Dengan model pembelajaran Cooperative Script saya tidak merasa kesulitan membuat teks cerpen.


·      Dengan dengan model pembelajaran Cooperative Script mengubah pardigma saya dalam menulis teks cerpen.



K.     Rancangan Penelitian
Agar penelitian dilakukan dengan dengan sistematis, peneliti telah membuat susunan rancangan penelitian, seperti di bawah ini:
No.
Kegiatan
Jan
Feb
Mart
April
Mei
1
Studi pustaka
ü   




2
Menentukan judul
ü   




3
Daftar ujian proposal
ü   




4
Ujian proposal

ü   



5
Daftar bimbingan skripsi

ü   



6
Menentukan bimbingan skrikpsi

ü   



7
Bimbingan skripsi

ü   



8
Penelitian di lapangan


ü   


9
Bimbingan skripsi


ü   


10
Daftar siding


ü   


11
Sidang skripsi











DAFTAR PUSTAKA
Arifin Zaenal 2011. Evaluasi Pembelajaran.Bandung. PT. Remaja Rosdakarya

Esten, Mursal.2000. Kesustraan: Pengantar Teori dan Sejarah. Bandung:
Angkasa

Hayati Tuti,  (2014). Pengantar Statistika Pendidikan. Bandung. CV. INSAN MANDIRI.

Suherli, dkk 2017, Bahasa Indonesia. Ktibang.Kemendikbud

A.M. Sardiman. 2016. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarata. PT. Raya  Grafindo Persada

Sugiyono 2015. Metode Penelitian Pendidikan.Bandung. Alfabeta

Taniredja Tukiran. (2013). Model-model Pembelajaran Inovatif & Efektif. Bandung. Alfabeta.

Thahar Harris. 1999. Kiat Menulis Cerita Pendek. Bandung : Angkasa

Uno Hamzah 2012, Pretest dan Postes: (http://www.riyanpedia.com/2017/01/pengertian-pre-tes-dan-post-tes-dalam-pembelajaran.html, diakses tanggal 11 februari 2018)

Iskandar, (2013). Metodologi Penelitian Pendidikan & Ilmu Sosial.Jakarta. Referensi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar