MENULIS TEKS
CERPEN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE
SCRIPT PADA SISWA KELAS XI MAS SIRNAMISKIN BANDUNG TAHUN AJARAN 2017-2018
Proposal
Penelitian
diajukan sebagai bahan
pertimbangan penyusunan skripsi
oleh
Miptah
NIM. 41032121141056
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN
BAHASA DAN SENI
FAKUTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
ISLAM NUSANTARA
BANDUNG
2018
MENGKONSTRUKSI TEKS CERPEN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE
SCRIPT PADA SISWA KELAS XI MAS SIRNAMISKIN BANDUNG TAHUN AJARAN 2017-2018
oleh Miptah, Nim 41032121141056
A.
Latar
Belakang Penelitian
Kegiatan
menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh
siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sesuai dengan kurikulum 2013
revisi mata pelajaran Bahasa Indonesia secara umum bertujuan agar peserta didik
mampu mendengarkan, membaca, memirsa (viewing),
berbicara, dan menulis. Maka dari itu, kegiatan menulis merupakan salah satu
keterampilan berbahasa yang sangat penting dan harus dikuasai oleh peserta
didik.
Dalam
materi pembelajaran Bahasa Indonesia, banyak materi pembelajaran yang ditujukan
agar peserta didik mampu melakukan kegiatan menulis, di jenjang SMA/MA/SMK
misalnya terdapat kompetensi-kompetensi salah satunya dalam silabus SMA Kelas
XI, terdapat kompetensi dasar yang menuntut agar peserta didik mampu menulis
teks lisan maupun tulisan.
Berdasarkan
penemuan di lapangan tempat magang MAS SIRNAMISKIN Bandung, peneliti melihat
bahwa hasil proses pembelajaran peserta didik dalam kegiatan menulis teks cerpen kurang
efektif, hal itu bisa dilihat dari nilai hasil latihan mereka yang kurang dan
pastinya berdampak pada hasil belajar mereka. Disamping itu faktor yang sangat
berpengaruh pada kurangnya hasil belajar siswa dikarenakan proses pembelajaran
terlalu banyak disajikan dalam bentuk teori saja, padahal pada prinsipnya
pembelajaran yang dikembangkan kurikulum 2013 revisi yang kita tahu bahwa
proses pembelajaran harus menyenangkan dan menantang, dan bisa disajikan dengan
berbagai model-model pembelajaran yang menarik sebagai penerapanya, sehingga
tujuan pembelajaran akan tercapai dengan baik.
Meninjau
pada prinsip umum pembelajaran Bahasa Indonesia kurikulum 2013 revisi, bahwa proses
pembelajaran dapat menggunakan berbagai pendekatan, dan proses harus
menyenangkan dan menantang guna tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Maka peneliti tertarik untuk menerapkan sebuah model pembelajaran menulis teks
cerpen yang sesuai dan relevan guna tercapainya tujuan pembelajaran. Adalah
model Cooperative Script yang mana pendekatan
ini merupakan pembelajaran yang berfokuskan pada penggunaan kelompok kecil
siswa untuk bekerja sama dalam
memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar yang
diharapkan. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara
kelompok. Tetapi belajar kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau
kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas
yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara
terbuka dan hubungan yang bersifat interpendensi efektif di antara anggota kelompok (Sugandi, 2002:
14, dalam Riyadi Purworedjo,2009:2) yang disini terfokus
pada pembelajaran menulis teks cerpen.
Kegiatan
mengkonstruksi atau menulis teks cerpen ini terdapat dalam kompetensi dasar
(KD) 4.9 tentang mengkonstruksi teks cerpen dengan memerhatikan unsur-unsur
pembangun cerpen. Maka dari itu, peneliti bermaksud untuk mengadakan penelitian
akan penerapan model pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran
menulis teks cerpen guna meningkatkan kemampuan peserta didik dalam proses pembelajaran
menulis teks cerpen, sehingga tujuan pembelajaran tercapai dengan baik.
Dalam penelitian ini, peneliti telah menemukan beberapa penelitian-penelitian
terdahulu yang meneliti tentang penerapan model pembelajaran Bahasa Indonesia
menggunakan model Cooperative Script salah
satunya yaitu yang pertama, penelitian yang dilakukan pada tahun 2016 oleh
Mokhamad Sodik dalam jurnal penelitian tindakan kelas yang berjudul
Implementasi Model Pembelajaran Cooperatipe
Script dalam Materi Pembelajaran Menulis Teks Non Sastra Bahasa Jawa pada Siswa Kelas IV SDN 03 Rebun,
Kabupaten Pekalongan dan dengan hasil yang memuaskan dimana dari hasil penelitiannya
didapatkan peningkatan nilai keterampilan menulis siswa, yang kedua adalah
penelitian yang dilakukan oleh Husnul Khotimah dalam penelitian tentang Upaya
Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan melalui Model Cooperative Script
dengan Media Flashcard berbasis kearifan lokal pada siswa Kelas IV SDN2 Panjer
Tahun ajaran 2015/2016 dan juga dengan hasil yang memuaskan, dimana dari hasil
penerapan model pembelajaran ini bisa disimpulkan dari presentase hasil pretest
dan posttes peserta didik ada peningkatan. Maka dari itu peneliti tertarik
dengan model pembelajaran yang diterapkan dengan model tersebut dan perbedaanya
disini, peneliti menerapkan model
tersebut ke dalam materi pembelajaran menulis teks cerpen.
Berdasarkan
latar belakang penelitian di atas, peneliti tertarik untuk mengambil judul
penelitian yaitu: Mengkonstruksi Teks Cerpen menggunakan Model Pembelajaran Cooperative Script pada Siswa Kelas XI
MAS SIRNAMISKIN Bandung Tahun Ajaran 2017/2018.
B.
Batasan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka peneliti membatasi ruang lingkup batasan penelitian
yang mencakup:
1. Materi
pembelajaran yang diteliti adalah materi menulis teks cerpen Kelas XI.
2. Model
pembelajaran yang digunakan adalah Model pembelajaran Cooperative Script.
3. Kompetensi
Dasar yang digunakan adalah KD 4.9 tentang Mengkonstruksi teks cerpen dengan
memerhatikan unsur pembangun cerpen.
4. Subjek
yang diteliti adalah siswa Kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung.
Fokus
penelitian ini meliputi:
a. Aktivitas
peserta didik dalam proses pembelajaran menkonstruksi teks cerpen menggunakan
model pembelajaran Cooperative Script.
b. Hasil
pretest dan posttes peserta didik sebelum dan sesudah pembelajaran menulis teks
cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script.
c. Respon
peserta didik dan guru tentang model Pembelajaran Cooperative Script yang telah diterapkan.
C.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
batasan masalah di atas, peneliti merumuskan penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana
aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran mengkontruksi teks cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script pada siswa kelas XI
MAS SIRNAMISKIN Bandung?
2. Adakah
peningkatan kemampuan Siswa Kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung dalam kegiatan mengkonstruksi
teks cerpen setelah pelaksanaan pembelajaran menggunakan model Cooperative Script dilakukan?
3. Bagaimana
respon peserta didik setelah melakukan pembelajaran mengkonstruksi teks cerpen
menggunakan model pembelajaran Cooperative
Script pada Siswa Kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung?
D.
Tujuan
Penelitian
Tujuan
Umum
Tujuan
umum dalam penelitian ini yaitu untuk memperoleh gambaran dan hasil aktivitas
siswa kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung setelah melakukan kegiatan pembelajaran
menulis teks cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script yang
diterapkan.
Tujuan
Khusus
Tujuan khusus dalam penelitian ini meliputi:
1. Untuk
memperoleh efektifitas atau tidaknya proses pembelajaran mengkonstruksi teks
cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script pada siswa kelas XI
MAS SIRNAMISKIN Bandung.
2. Untuk
memperoleh data hasil kemampuan siswa sebelum dan sesudah pelaksanaan
pembelajaran menulis teks cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script pada siswa kelas XI
MAS SIRNAMISKIN Bandung dan mendeskripsikan hasilnya.
3. Untuk
memperoleh respon siswa dan guru terhadap model Cooperative Script yang telah diterapkan pada siswa kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung.
E.
Manfaat
Penelitian
Manfaat
yang diharapkan dalam penelitian ini
meliputi manfaat teoretis dan manfaat praktis, berikut pernyataanya:
1. Manfaat
Teoretis
a. Manfaat
bagi Peneliti
Menambah wawasan pengetahuan tentang
penerapan model pembelajaran Cooperative
Script dalam kegiatan menulis teks cerpen yang dilakukan oleh peserta didik.
b. Manfaat
bagi Peserta didik
Menambah pengetahuan peserta didik tentang
bagaimana proses menulis teks cerpen dengan baik.
c. Manfaat
bagi Guru
Menambah wawasan seputar penerapan
pembelajaran model Cooperative Script yang telah diterapkan kepada peserta
didik guna meningkatkan kemampuan keterampilan menulis teks cerpen.
d. Manfaat
bagi Sekolah
Memperoleh gambaran tentang model
pembelajaran yang telah diterapkan, dan mengetahui efektif atau tidaknya dari
hasil penelitian ini.
2. Manfaat
Praktis
a. Manfaat
bagi peneliti
Menambah
wawasan dan pengalaman dalam melakukan penelitian khususnya penelitian
tentang mengkonstruksi teks cerita pendek menggunakan model Cooperative
Script pada siswa kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung.
b. Manfaat
bagi Peserta didik
Memperoleh pengalaman proses belajar
mengajar mengkonsruksi teks cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script.
c. Manfaat
bagi Guru
Memperoleh hasil kemampuan siswa dalam
proses pembelajaran mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model Cooperative Script.
d. Manfaat
bagi Sekolah
Memperoleh gambaran tentang hasil proses
pembelajaran menulis teks cerpen menggunakan model Cooperative script pada siswa kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung.
F.
Anggapan
Dasar
Adapun
anggapan dasar yang melandasi penelitian ini, antara lain:
1) Proses
pembelajaran yang baik adalah proses pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa.
2) Proses
belajar mengajar dikatakan baik apabila di dalam proses pembelajaran itu guru
sebagai motivator dan fasilitator menawarkan suatu produk atau model
pembelajaran yang baik, dan siswa antusias aktif merespon apa yang guru mereka arahkan.
Sehingga materi pembelajaran tersampaikan dengan baik dan tujuan pembelajaran
tercapai sesuai yang diharapkan.
G.
Hipotesa
Penelitian
Sesuai
dengan rumusan penelitian diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis dari
penelitian ini adalah sebagai berikut:
Ho
: Tidak terdapat perubahan peserta didik dalam peningkatan keterampilan
mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script.
Ha
: Terdapat perubahan keterampilan pada peserta didik dalam mengkonstruksi teks
cerpen menggunakan model pembelajaran Coopereative Script.
H.
Teori
Landasan
1.
Pengertian
Menulis
Menurut Wagiran
dan Doyin (2005 : 2) menulis merupakan keterampilan berbahasa yang digunakan
dalam komunikasi tidak langsung. Keterampilan menulis ini tidak didaptkan
secara ilmiah, namun harus melalui proses belajar dan berlatih. Menulis bukan
sebuah pekerjaan yang sulit namun juga bukan merupakan pekerjaan yang mudah.
Untuk memulai menulis, kita tidak harus menjadi peneliti yang terampil. Akan
tetapi berlatih menulis juga tidak cukup dilakukan hanya sekali atau dua kali
saja. Frekuensi berlatih menulis akan menjadikan seseorang menjadi terampil
dalam kegiatan menulis. Tidak banyak orang yang dapat menulis sekali saja.
Menulis merupakan sebuah proses. Proses ini melibatkan tahap prapenulis,
penelitian, penyuntingan, perbaikan, dan penyempurnaan.
Akhaidah (1988;2) menyebutkan bahwa keterampilan
menulis merupakan keterampilan yang kompleks yang menuntut sejumlah pengetahuan
dan keterampilan. Bahkan untuk menulis sebuah karangan yang sederhana, kita
harus mengikuti sebuah rangkaian teknis yang sama seperti jika menulis sebuah
karangan yang rumit yaitu kita harus memilih topik, membatasinya, mengembangkan
gagasan, serta menyajikan dalam kalimat yang runtut dan logis.
Lado (dalam
suriamihardja 1997;1) mengemukakan menulis adalah menempatkan simbol-simbol
grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dimengerti oleh seseorang kemudian
dapat dibaca oleh orang lain yang memahami bahasa tersebut beserta
simbol-simbolnya.
Dari pendapat
di atas dapat disimpulkan, menulis merupakan kegiatan menuangkan ide atau
gagasan dengan menggunakan bahasa sebagai media yang telah disepakati bersama
untuk diungkapkan secara tertulis. Menulis merupakan suatu kegiatan yang
ekspresif dan produktif. Oleh karena itu, keterampilan menulis harus sering
dilatih secara rutin dan berkesinambungan disertai dengan praktik yang teratur
agar keterampilan menulis dapat dicapai dengan baik.
2.
Pengertian
Cerita Pendek
Sebuah cerita
pendek belum tentu dapat digolongkan ke dalam jenis cerita pendek jika ruang
lingkup dan permasalahanya yang diungkapkan tidak memenuhi persyaratan yang
dituntut oleh cerita pendek. Cerpen adalah wadah yang biasanya dipakai oleh
pengarang untuk menyuguhkan sebagian kecil saja dari kehidupan tokoh yang
paling menarik perhatian pengarang (suharianto 1982:39).
Menurut Nursito (1999: 112), cerpen adalah
cerita yang hanya menceritakan suatu peristiwa dari seluruh kehidupan pelakunya
atau cerita yang pendek, namun tidak setiap cerita yang pendek dapat
digolongkan ke dalam cerpen. Cerpen adalah cerita yang pendek dan di dalamnya
terdapat pergolakan jiwa pada diri pelakunya sehingga secara keseluruhan cerita
bisa menyentuh nurani pembaca yang dapat dikategorikan sebagai sebuah sastra
cerpen.
Ismail (2001:40) menyebutkan cerpen adalah
salah satu ragam fiksi atau cerita rekaan yang sering disebut kisahan prosa
pendek.
Menurut Abdul
Rani dan Maryani (2004:85), cerpen adalah karangan pendek yang berbentuk prosa.
Dalam cerpen diceritakan sepenggal kehidupan tokoh yang penuh pertikaian,
peristiwa yang mengharukan dan menyenangkan dan mengandung kesan yang tidak
mudah dilupakan.
Dari beberapa pendapat tersebut peneliti
dapat menyimpulkan bahwa cerita pendek adalah cerita fiksi yang bentuknya
pendek dan ruang lingkup permasalahanya menyuguhkan sebagian kecil saja dari
kehidupan tokoh yang menarik perhatian pengarang dan keseluruhan cerita memberi
kesan tunggal.
3.
Pengertian
Menulis Cerita Pendek
Menulis cerpen
merupakan salah satu kegiatan menulis kreatif. Yaitu kegiatan menulis yang
bertujuan untuk mencapai nilai-nilai artistik, nilai-nilai kesenian (Hartig
dalam Tarigan 2008 : 25-26). Pada dsasarnya menulis kreatif sama dengan menulis
biasa. Namun dalam menulis kreatif yang perlu mendapat tekanan dan perhatian
besar adalah kreativitas. Karena kreativitas sangat penting peranya dalam
pengembangan proses kreatif seorang penulis dalam karya-karyanya. Kreativitas
ini tertuang dalam ide maupun hasil akhirnya.
Menulis cerpen memang harus banyak berkhayal
karena cerpen merupakan karya fiksi yang berbentuk prosa. Pristiwa-pristiwa
yang terjadi dalam cerpen hanya rekayasa pengaranya. Demikian pula dengan
pelaku, wktu, suasana, dan tempat terjadinya peristiwa itu pun hanya di
reka-reka oleh pengarangnya.
Cerita dalam cerpen meskipun bersifat khayal,
namun ceritanya masih masuk akal sehingga bisa dimungkinkan terjadi. Bahan baku
cerpen memang berasal dari kisah-kisah yang benar-benar terjadi dalam masyarakat.
Willian Maller
(dalam Komaidi 2007:7) menyebutkan bahwa proses kreatif seorang peneliti
mengalami 4 tahap:
1.
Tahap
persiapan
Peneliti sudah sadar apa
yang akan ditulisnya dan bagaimana menuliskannya.
2.
Tahap
inkubasi
Gagasan yang telah muncul
disimpan dan dipikirkan matang-matang dan ditunggu waktu yang tepat untuk
menuliskannya.
3.
Inspirasi
Gagasan dan bentuk
ungkapanya telah padu.
4.
Penelitian
Segera tuangkan dalam
bentuk tulisan setelah inspirasi muncul, yang kemudian direvisi.
Supriyadi (dalam Doyin dan
Warigan 2009: 14) berpendapat bahwa penyusunan sebuah tulisan memuat empat
tahap, yaitu :
1.
Tahap
persiapan (prapenulis)
2.
Tahap
inkubasi
3.
Tahap
Eiliminasi
4.
Tahap
evaluasi
Jadi
langkah-langkah menulis kreatif cerpen adalah menemukan ide tau tema penelitian
kemudian menangkap dan mematangkan ide tersebut dengan menuliskannya dalm
bentuk karya sastra, dan yang terakhir adalah merevisi karya tersebut untuk
mendapatkan hasil yang maksimal.
1.
Unsur-unsur cerita pendek
Cerpen
tersusun atas unsur-unsur pembangun cerita yang saling berkaitan erat antara
satu dengan yang lainnya. Keterkaitan unsur-unsur pembangun tersebut membentuk
totalitas yang abstrak. Kohesi dan kepaduan semua unsur cerpen yang membentuk
sebuah totalitas amat menentukan keindahan dan keberhasilan cerpen sebagai
suatu cipta sastra. Unsur-unsur tersebut terdiri atas tema, alur (plot),
tokoh dan penokohan, latar (setting), sudut pandang (point of view),
gaya bahasa (style), dan amanat (Sayuti 1988:3)
1.
Tema
Esten
(2000:23) menyatakan bahwa tema adalah sesuatu yang menjadi pikiran, sesuatu yang menjadi persoalan bagi pengarang. Tema
merupakan persoalan yang
diungkapkan dalam sebuah cipta rasa. Abdul Rani dan
Maryani (2004:86) berpendapat bahwa tema adalah inti pokok yang menjadi dasar pembangunan cerita. Keberadaan tema memiliki
posisi atau kedudukan penting
dalam sebuah cerita. Untuk memahaminya, kita perlu membaca cerita tersebut dengan cermat. Sedangkan menurut Suharianto (2005:27), tema adalah gagasan inti.
Bisa disamakan dengan
pondasi sebuah bangunan rumah. Tema adalah sebuah ide pokok, pikiran utama sebuah cerpen. Tema yang baik yaitu untuk cerpen adalah tema yang mengangkat
masalah yang ada di masyarakat,
mampu mendeskripsikan cerita yang ditawarkan kepada pembaca dan menyajikan keseluruhan tema dari cerita.
2.
Alur atau Plot
Esten
(2000:26) menyatakan bahwa alur adalah urutan (sambung-sinambung) peristiwa-peristiwa
dalam sebuah cerita rekaan. Abdul Rani dan Maryani (2004:86) berpendapat bahwa
alur adalah pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab-akibat.
Suharianto (2005:18) mengemukakan bahwa alur atau plot adalah cara pengarang menjalin kejadian-kejadian secara berurutan dengan memperhatikan hukum sebab-akibat sehingga merupakan satu kesatuan yang padu, bulat, dan utuh.
Suharianto (2005:18) mengemukakan bahwa alur atau plot adalah cara pengarang menjalin kejadian-kejadian secara berurutan dengan memperhatikan hukum sebab-akibat sehingga merupakan satu kesatuan yang padu, bulat, dan utuh.
Plot terdiri
dari lima bagian:
a.
Pemaparan atau Pendahuluan Bagian cerita tempat pengarang mulai
melukiskan suatu keadaan yang merupakan awal cerita.
b.
Penggawatan
Melukiskan tokoh-tokoh dalam cerita tersebut. Mulai terasa ada konflik.
Melukiskan tokoh-tokoh dalam cerita tersebut. Mulai terasa ada konflik.
c.
penanjakan
Konflik yang memulai memuncak.
Konflik yang memulai memuncak.
d.
Puncak atu klimaks Peristiwa mencapai puncaknya.
e.
Peleraian
Pemecahan dari semua peristiwa yang terjadi dalam cerita.
Pemecahan dari semua peristiwa yang terjadi dalam cerita.
Alur yang baik
yaitu alur yang menarik dari segi permainan alurnya, ada tegangan dan kejutan
serta pembayangan yang akan terjadi, dan juga atmosfir yang pas ketika
terjadinya peristiwa.
3.
Tokoh dan penokohan
Abrams
(dalam Nurgiyantoro 1994:165) menyatakan bahwa tokoh adalah orang-orang yang
ditampilkan dalam karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki
kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam
ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Sedangkan menurut Sudjiman (dalam
Harjito 2002:11), tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa dalam cerita.
Menurut
Esten (2000:27), penokohan ialah bagian cara pengarang menggambarkan dan
mengembangkan watak tokoh-tokoh dalam cerita. Sumardjo (dalam Gunarsa dkk
1985:46-47) menyebutkan bahwa penokohan dalam karya sastra berbeda dengan
penokohan dalam sehari-hari. Penokohan dalam karya sastra merupakan penokohan
yang dipilih dan diselesaikan pengarang dengan meningkatkan unsur-unsur
kesehariannya.
Penokohan
menurut Suharianto (2005:27), adalah penciptaan citra tokoh dalam cerita. Tokoh
harus tampak hidup dan nyata sehingga pembaca merasakan kehadirannya. Penokohan
yang di dalamnya terdapat perwatakan sangat penting bagi sebuah cerita. Ia
diibaratkan seperti mata air kekuatan sebuah cerpen. Pada dasarnya sifat tokoh
ada dua macam : sifat lahir (rupa, bentuk) dan sifat batin (watak, karakter).
Kedua sifat tokoh tersebut bisa diungkapkan dengan berbagai cara :
a.
tindakan, ucapan, pikiran.
b.
tempat tokoh itu berada.
c.
benda-benda di sekitar tokoh.
d.
kesan tokoh lain terhadap dirinya.
e.
deskripsi langsung secara naratif oleh pengarang.
Akhadiah (1994:12)
menyebutkan penokohan atau perwatakan adalah pelukisan tokoh cerita, baik
keadaan lahir maupun batinnya termasuk keyakinannya, pandangan hidupnya, adat
istiadat, dan sebagainya. Ada tiga cara yang digunakan pengarang untuk
melukiskan watak tokoh cerita, yaitu dengan cara langsung, tidak langsung, dan
kontekstual.
a.
Langsung : pengarang langsung melukiskan keadaan dan sifat si tokoh
(cerewet, nakal, baik, berambut panjang, berkulit putih, dan lain-lain).
b.
Tidak langsung : pengarang secara tersamar memberitahukan keadaan
tokoh cerita (pikiran, cakapan, tingkah laku, penampilan) dan penceritaan dari
tokoh yang lain.
c.
Kontekstual : yaitu bahasa yang digunakan pengarang untuk mengacu
kepada tokoh.
Tokoh
dan penokohan yang baik yaitu yang mampu menggambarkan secara nyata tokoh yang
ada di dalam peristiwa dan mampun membawa pembaca merasakan peristiwa yang
terjadi di dalam cerpen.
4.
Latar atau setting
Menurut Laksana (2009:63), latar adalah waktu, tempat, dan suasana
terjadinya peristiwa dalam cerpen Tinambunan, dkk. (1996:11) mengemukakan bahwa
latar adalah tempat
cerita, waktu, situasi atau suasana cerita dan masyarakat tempat tokoh berada.
cerita, waktu, situasi atau suasana cerita dan masyarakat tempat tokoh berada.
Suharianto
(2005:27) mengungkapkan bahwa latar atau setting adalah segala keterangan
mengenai waktu, ruang, suasana dalam sebuah cerita. Karena latar bersatu dengan
tema dan plot untuk menghasilkan cerpen yang gempal, padat, dan berkualitas.
Latar dibedakan menjadi tiga macam :
Latar dibedakan menjadi tiga macam :
a.
latar waktu (masa): waktu atau masa tertentu ketika peristiwa
dalam cerita itu terjadi.
b.
latar tempat: adalah lokasi atau bangunan fisik lainnya yang
menjadi tempat terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita.
c.
latar suasana: adalah salah
satu unsur intrinsik yang berkaitan dengan keadaan psikologis yang timbul
dengan sendirinya bersamaan dengan jalan cerita.
Kategori latar/setting yang baik yaitu sesuai dengan
peristiwa. Dalam hal ini meliputi tepat dalam memilih tempat terjadinya
peristiwa, tepat memilih waktu yang memiliki tampakan atmosfir bagus terjadinya
peristiwa, dan tepat menggambarkan suasana yang mendukung peristiwa.
5.
Sudut pandang
Aminudin
(2009:90) mengemukakan bahwa sudut pandang adalah cara pengarang menampilkan
para pelaku dalam cerita yang dipaparkan. Nurgiyantoro (tanpa tahun:248) juga
menyebutkan bahwa sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik dan
siasat yang sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya.
Menurut Suharianto (2005:27), sudut pandang pengarang ada beberapa jenis, tetapi yang umum adalah :
Menurut Suharianto (2005:27), sudut pandang pengarang ada beberapa jenis, tetapi yang umum adalah :
a. Sudut pandang orang
pertama
Lazim disebut “poin of view” (Aku, Saya).
Lazim disebut “poin of view” (Aku, Saya).
b. Sudut pandang
orang ketiga
Biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia” / “dia” / langsung menyebut namanya (tokohnya).
Biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia” / “dia” / langsung menyebut namanya (tokohnya).
c. Sudut pandang
campuran
Pengarang membaurkan antara pendapat pengarang dan tokoh. Seluruh kejadian dan aktivitas tokoh diberi komentar dan tafsiran, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang diceritakan.
Pengarang membaurkan antara pendapat pengarang dan tokoh. Seluruh kejadian dan aktivitas tokoh diberi komentar dan tafsiran, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang diceritakan.
d. Sudut pandang
yang berkuasa
Yaitu teknik yang menggunakan kekuasaan si pengarang untuk menceritakan sesuatu sebagai pencipta. Sudut pandang ini membuat cerita sangat bervariatif dan lebih cocok untuk cerita bertendens.
Yaitu teknik yang menggunakan kekuasaan si pengarang untuk menceritakan sesuatu sebagai pencipta. Sudut pandang ini membuat cerita sangat bervariatif dan lebih cocok untuk cerita bertendens.
Jadi sudut pandang yang baik yaitu yang memberikan perasaan
kedekatan
tokoh, baik dalam menjelaskan kepada pembaca siapa yang dituju dan menunjukkan perasaan tokoh kepada pembaca.
tokoh, baik dalam menjelaskan kepada pembaca siapa yang dituju dan menunjukkan perasaan tokoh kepada pembaca.
6.
Gaya bahasa
Minderop (2005:51) mengemukakan bahwa gaya bahasa yaitu semacam
bahasa yang bermula dari bahasa yang biasa digunakan dalam gaya tradisional dan literal untuk menjelaskan orang atau objek. Dengan menggunakan gaya bahasa, pemaparan imajinatif menjadi lebih segar dan berkesan.
bahasa yang bermula dari bahasa yang biasa digunakan dalam gaya tradisional dan literal untuk menjelaskan orang atau objek. Dengan menggunakan gaya bahasa, pemaparan imajinatif menjadi lebih segar dan berkesan.
Suharianto
(2005:26) berpendapat bahwa gaya bahasa merupakan sarana pengarang mengajak
pembacanya ikut serta merasakan apa yang dilakukan oleh tokoh cerita. Laksana
(2009:64) menyebutkan bahwa gaya bahasa adalah gaya khas yang dimiliki oleh
pangarang dalam menyampaikan pikiran dan perasaan. Cara pengarang
menggunakan bahasa untuk menghasilkan cerpen atau karya fiksi yang lain
dinamakan gaya bahasa.
Jadi, gaya bahasa yang baik dalam menulis cerpen yaitu gaya bahasa yang mengandung unsur emotif bersifat konotatif, mengedepankan dan mengaktualisasikan sesuatu yang dituturkan dan tepat dalam memilih ungkapan yang mewakili sesuatu yang diungkapkan.
Jadi, gaya bahasa yang baik dalam menulis cerpen yaitu gaya bahasa yang mengandung unsur emotif bersifat konotatif, mengedepankan dan mengaktualisasikan sesuatu yang dituturkan dan tepat dalam memilih ungkapan yang mewakili sesuatu yang diungkapkan.
7.
Amanat
Laksana
(2009:64) berpendapat bahawa amanat adalah ajaran yang ingi disampaikan
pengarang kepada pembaca. Suharianto (2005:17) menyebutkan bahwa amanat dapt
disampaikan secara tersirat maupun tersurat. Esten (2000:22) mengatakan bahwa
amanat adalah pemecahan suatu tema. Di dalam amanat terlihat pandangan hidup
dan citacita pengarang.
Jadi,
amanat yang baik yaitu yang dapat menyentuh hati pembaca, sehingga
pembaca memahami nilai-nilai yang terkandung di dalam cerpen baik secara
tersurat maupun tersirat.
pembaca memahami nilai-nilai yang terkandung di dalam cerpen baik secara
tersurat maupun tersirat.
4.
Pengettian
Model pembelajaran
Menurut Joyce (dalam Trianto 2007:5), model pembelajaran adalah
suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan
pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan
perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film-film,
kurikulum dan lain-lain.
Selanjutnya Joyce
menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarahkan kita dalam mendesain
pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan
pembelajaran tercapai. Arends (dalam Suprijono 2009:46) berpendapat bahwa model
pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya
tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan
pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Selanjutnya, Suprijono (2009:46)
mengatakan bahwa model pembelajaran dapat diartikan pula sebagai pola yang
digunakan untuk penyusunan kurikulum, mengatur materi, dan memberi petunjuk
kepada guru di kelas. Salah satu ahli yaitu Arend (dalam Trianto 2007:68),
mengemukakan bahwa pembelajaran berdasarkan masalah/Problem Based
Instruction (PBI) merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang mengajarkan
siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyususn
pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri, berketerampilan berpikir
tingkat tinggi, mengembangkan kemandirian, dan percaya diri. Jadi, model Problem
Based Instruction yaitu model pembelajaran yang menggunakan lingkungan
sekitar siswa sebagai stimulus guna mendapatkan respon dari siswa. Stimulus
tersebut berupa permasalahan yang dapat diselidiki dan diselesaikan
oleh siswa sebagai respon atau reaksi dari siswa. Pengalaman/proses
memecahkan/menyelesaikan masalah yang dialami siswa inilah yang akan membantu
siswa menemukan tujuan pembelajaran yang sedang dilakukan. Model sinektik yaitu
model pembelajaran yang kreatif. Artinya model pembelajaran ini menitikberatkan
pada proses kreativitas siswa. Cara siswa memecahkan sebuah permasalahan dengan
cara lain, yaitu dengan cara rasional dan intelektual yang dibantu dengan cara
irrasional dan emosional. Menurut Gordon (dalam Hastuti 1996:155) hubungan
kreativitas dengan proses sinektik dapat memunculkan proses kreatif menuju
kesadaran dan mengembangkan secara nyata kapasitas terhadap individu dan
kelompok. Gordon (dalam Haryati 2005:31) mengemukakan bahwa sinektik berarti
menghubungkan atau menyambung. Jadi, model pembelajaran ini merupakan upaya
pemahaman menulis cerpen melalui proses metaforik dan analogi yang menekankan
keaktifan dan kreativitas siswa.
5.
Pengertian
Model Pembelajaran Cooperative Script
Salvin
(dalam Isjoni, 2009: 15) mengemukakan, “in
cooperative learning metods, student work together in four member team to
master material initially presented by the teacher.” Dari uraian tersebut
dapat dikemukakan bahwa kooperative learning adalah salah satu model
pembelajaran di mana dalam sistem belajar dan bekerja dalam keleompok-kelompok
kecil yang berjumlahkan 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang
siswa lebih bergairah dalam belajar.
Pembelajaran
(kooperative lerning) merupakan sistem
pembelajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama
dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Pembelajaran kooperatif
dikenal dengan pembelajaran secara kelompok. Tetapi belajar kooperatif lebih
dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar
kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga
memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat
interpendensi efektif di antara anggota
kelompok (Sugandi,2002: 14, dalam Riyadi Purworedjo,2009:2)
Menurut
pendapat Lie,A. (2008: 29) bahwa model pembelajaran kooperatif tidak sama
dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran cooperative learning yang membedakanya
dengan pembagian kelompok yang dilakukan alasan-alasan. Pelaksanaan prosedur
model cooperative learning dengan benar-benar akan memungkinkan mendidik
mengelola kelas dengan lebih efektif.
Metode Cooperative Script adalah salah satu dari beberapa metode
yang ada di model
pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning). Metode ini dikemukakan oleh Dansereau dan kawan-kawan (2007). Pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkonstruksi konsep, menyelesaikan persoalanatau inkuiri. Adapun pengertian Pembelajaran Kooperatif adalah sebagi berikut:
pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning). Metode ini dikemukakan oleh Dansereau dan kawan-kawan (2007). Pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkonstruksi konsep, menyelesaikan persoalanatau inkuiri. Adapun pengertian Pembelajaran Kooperatif adalah sebagi berikut:
1)
Pembelajarn kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang
berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam
memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.
2)
Pembelajaran Kooperatif adalah pembelajaran yang menuntut kerjasama
siswa dan saling ketergantungan dalam struktur, tugas, tujuan dan hadiah.
3)
Sedangkan menurut Slavin, pembelajaran kooperatif adalah suatu
model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok
kecil secara kolaboratif yang beranggotakan 4 – 6 orang dengan struktur
kelompok heterogen.
Dari
uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu
model pembelajaran yang menggunakan adanya kerjasama antara siswa dalam suatu kelompok
kecil yang bersifat heterogen untuk mencapai tujuan belajar bersama. Tujuan
dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa
agar dapat terlihat secara aktif dalam proses berfikir dalam kegiatan belajar
mengajar.
Beberapa ahli menyatakan bahwa model pembelajaran
kooperatif tidak hanya unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit,
tetapi juga sangat berguna untuk menumbuhkan kemampuan berfikir kritis,
bekerjasama dan membantu teman. Selain itu keterlibatan siswa secara aktif pada
proses pembelajaran dapat memberikan dampak positif terhadap siswa untuk
meningkatkan prestasi belajarnya.
Menurut
Dansereau dan kawan-kawan Cooperative
Script adalah suatu cara bekerjasama dalam membuat naskah tulisan tangan
dengan berpasangan dan bergantian secara lisan dalam mengintisarikan
materi-materi yang dipelajari.
Sedangkan
menurut Slavin RE (2005) Cooperative Script adalah metode belajar dimana
siswa bekerja berpasangan dan bergantian peran sebagai pembaca atau pendengar
dalam mengintisarikan bagian-bagian yang dipelajari. Dengan metode ini, siswa
dapat bekerja atau berpikir sendiri tidak hanya mengandalkan satu siswa saja
dalam kelompoknya. Karena setiap siswa dituntut untuk mengintisarikan materi
dan mengungkapkan pendapatnya secara langsung dengan patnernya.
6.
Sintak
Model Pembelajaran Cooperative Script
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam metode pembelajaran Cooperative
Script adalah sebagai berikut :
1)
Guru membagi siswa untuk berpasangan.
2)
Guru membagikan wacana / materi kepada setiap siswa untuk dibaca
dan membuat ringkasan.
3)
Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai
pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
4)
Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan
memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak /
mengoreksi / menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu
mengingat / menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau
dengan materi lainnya.
5)
Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar
dan sebaliknya, serta lakukan seperti di atas.
6)
Kesimpulan siswa bersama-sama dengan guru.
7)
Penutup Pendekatan Cooperativ Script membantu para siswa menemukan
makna dalam pelajaran mereka dengan cara saling bekerja sama dengan teman kelompoknya,
sehingga apa yang mereka pelajari melekat dalam ingatan untuk meningkatkan
kemampuan membaca teks non sastra.
7.
Aktivitas
Siswa dalam Proses Pembelajaran
Untuk
menjawab rumusan masalah tentang bagaimana aktivitas peserta didik dalam proses
pembelajaran, maka peneliti membutuhkan teori tentang apa saja aktivitas-aktivitas
yang dilakukan oleh peserta didik ketika berlangsungnya proses pembelajaran.
Dalam
proses pembelajaran diperlukan aktivitas, sebab pada prinsipnya belajar adalah
berbuat. Berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak
ada yang namanya belajar kalau tidak ada
aktivitas. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat
penting di dalam interaksi belajar-mengajar (Sardiman 2016: 96).
Sekolah
adalah salah satu pusat kegiatan belajar. Dengan demikian, di sekolah merupakan
arena untuk mengembangkan aktivitas. Banyak jenis aktivitas yang dapat
dilakukan oleh siswa di sekolah. Aktivitas siswa tidak cukup hanya mendengarkan
dan mencatat seperti yang lazim terdapat di sekolah-sekolah tradisional. Paul
B.Diedrich (dalam Sadirman 2016 : 100) membuat suatu daftar yang berisi 177
macam kegiatan siswa yang antara lain dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Visual activities, yang
termasuk di dalamnya misalnya, membaca, memerhatikan gambar-gambar demonstrasi,
percobaan, pekerjaan orang lain.
2. Oral activities,
seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan
pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
3. Listening aactivities
sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
4. Writing activities,
seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.
5. Drawing activities, misalnya:
menggambar, memnuat grafik, peta, diagram.
6. Motor activities,
yang termasuk di dalamnya antara lain: melakukan percobaan, membuat konstruksi,
model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.
7. Mental activities, sebagai
contoh misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat
hubungan, mengambil keputusan.
8. Emotional activities, seperti
misalnya: menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah berani,
tenang, gugup.
Jadi
dengan klasifikasi aktivitas seperti diuraikan di atas, menunjukan bahwa
aktivitas di sekolah cukup kompleks dan bervariasi. Kalu berbagai kegiatan
tersebut dapat diciptakan di sekolah, tentu sekolah-sekolah akan lebih dinamis,
Tidak
membosankan dan benar-benar menjadi pusat aktivitas belajar yang maksimal dan
bahkan akan memperlancar perananya sebagai pusat dan transformasi kebudayaan.
Tetapi sebaliknya ini semua merupakan tantangan yang menuntut jawaban dari para
guru. Kreativitas guru mutlak diperlukan agar dapat merencanakan kegiatan siswa
yang sangat bervariasi itu.
8.
Pretes
dan Postes
Tes
adalah serentetan pertanyaan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur
keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh
individu atau kelompok (Arikunto, 1993: 123).
Menurut Hamzah B Uno (2012: 29) tes adalah
seperangkat tugas yang harus dikerjakan atau sejumlah pertanyaan yang harus
dijawab oleh peserta didik untuk mengukur tingkat pemahaman dan penguasaan
terhadap cahupan materi yang dipersyaratkan dan sesuai dengan tujuan
pembelajaran tertentu.
Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan
bahwa tes tersebut merupakan sebuah tugas yang harus dikerjakan oleh siswa
dengan tujuan untuk mengukur penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran.
terkadang guru melakukan tes kepada siswa di awal kegiatan pembelajaran atai di
akhir pembelajaran. bahkan mungkin saja guru tidak melakukan tes sama sekali
setiap mengakhiri kagiatan pembelajaran. semua itu bisa saja, namun sebagai
guru profesianal, peneliti yakin semua guru tentu melakukan tes kepada siswa.
Adalah pretes dan postes yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita, yakni tes
awal dan tes akhir.
a. Pre
Tes
Pre Tes adalah seperangkat tugas yang
harus dikerjakan siswa atau bisa juga berupa pertanyaan yang diberikan di awal
memulainya kegiatan pembelajaran. Tujuan dilakukanya Pre Tes tersebut adalah
untuk mengetahui tingkat pemahaman atau kemampuan awal yang dimiliki siswa
terhadap materi pembelajaran yang akan dipelajari.
Soal Pre Tes biasanya mengacu pada tujuan
pembelajaran yang akan dicapai. Bentu soal Pre Tes biasanya berupa pilihan
ganda atau uraian. Jumlah soal Pre Tes biasanya tergantung kebijakan guru, yang
perlu diperhatikan agar ketika siswa mengerjakan Pre Tes tidak mengurangi waktu
kegiatan pembelajaran.
Perolehan siswa terhadap nilai Pre
Tes ini tidak akan sama dengan Pos Tes. Bisa saja nilai Pre Tes masuk kedalam
kreteria minimal atau bahkan lebih. Karena, bisa saja siswa membaca buku
pelajaran sebelumnya, memiliki pengalaman terkait dengan materi yang
dipelajari, dan bisa saja siswa sudah mencari materi tersebut di internet.
Dengan nilai Pre Tes tersebut guru
akan memperoleh gambaran tentang jumlah siswa yang sudah menguasai sebagai atau
materi secara keseluruhan dan siswa yang belum sama sekali menguasai materi
yang akan diajarkan tersebut.
b. Postest
Post Tes adalah sejumlah
tugas yang harus dikerjakan siswa bisa berupa pertanyaan yang harus dijawab
siswa setelah proses kegiatan pembelajaran berakhir. Tujuan dari Post
Tes tersebut adalah untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran, serta
untuk mengetahui tingkat daya serap siswa terhadap materi yang dipelajari.
Soal
Post Tes yang diberikan guru bisa saja sama dengan soal Pre Tes sebelumnya.
Dengan membandingkan nilai Pre Tes dengan Post Tes maka guru akan memperoleh
perbandingan hasil evaluasi siswa.
Biasanya
nilai Post Tes siswa akan meningkat, bila siswa mengikuti proses pembelajaran
dengan baik. Sebaliknya siswa yang kurang serius dalam mengikuti kegiatan
pembelajaran akan memperoleh nilai Post Tes yang tidak jauh berbeda dengan
sebelumnya.
Mengani
jumlah soal dan bentuk soal Post Tes sekali lagi semua mengacu pada tujuan
pembelajaran yang sudah disusun oleh guru.
9.
Teori
Respon
Menurut
Letari dan Yudanegara (2017 : 93), Respon adalah suatu sikap yang menunjukan
adannya partisipasi aktif untuk melibatkan diri dalam satu kegiatan
(pembelajaran). Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan
respon (Slavin, 2000: 143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia
dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang
penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan respon
berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh
guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting
untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang
dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan
oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat
diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran
merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan
tingkah laku tersebut.
I.
Metodologi
Penelitian
1.
Populasi
dan Sampel
a. Populasi
penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung.
b. Sampel
penelitian ini menggunakan sampel purposive sampling yang diteliti hanya satu
kelas yaitu siswa kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung.
2.
Metode
Penelitian
Penelitian
ini menggunakan metode penelitian Pre-Eksperimen
bentuk desain one grup pretest and
posttes design (satu kelompok Pretest-Postest).
Skema
dari penelitian ini adalah:
Pretest
|
Treatmen
(perlakuan)
|
Posttest
|
O1
|
X
|
O2
|
Keterangan.
O1 : Tes awal (pretest)
X : Treatment (perlakuan) pembelajaran
dengan menggunakan model
pembelajaran Cooperative Script.
O2 : Tes akhir (posttest)
Pengaruh
perlakuan X dapat diketahui dengan membandingkan antara hasil O1 dan O2 dalam
situasi terkontrol.
Analisis
data yang digunakan yaitu kecenderungan memusat,dengan menggunakan rumus Mean,
yaitu:
X=?X
N
Keterangan
X :
Jumlah skor
N :
Banyaknya individu
?x :
Rata-rata skor
3.
Teknik
Penelitian
a.
Teknik pengumpulan data
1. Teknik
Observasi
Untuk
memperoleh data aktifitas peserta didik, maka digunakan teknik observasi,
dimana peneliti menganalisis aktivitas-aktivitas peserta didik ketika proses
pembelajaran mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model Cooperative Script ini berlangsung. Sebelum observasi dilaksanakan
peneliti menyiapkan instrumen berupa lembar observasi yang di dalamnya terdapat
butir-butir aktifitas siswa yang akan dianalisis ketika proses pembelajaran
dilakukan.
2. Teknik
tes
Untuk
memperoleh data hasil kemampuan peserta didik, maka digunakan pretest dan
posttes yaitu dengan teknik tes, di mana teknik ini dilakukan guna untuk
memperoleh data kemampuan peserta didik sebelum dan sesudahnya kegiatan
pembelajaran mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model Cooperative Script dilakukan. Teknik tes dilakukan sebelum dan
sesudah pembelajaran dilaksanakan, dengan cara memberikan lembar tes kepada
peserta didik kemudian peserta didik mengerjakan lembar tes tersebut, dan
mengumpulkanya kembali untuk dianalisis oleh peneliti.
3. Teknik
angket
Untuk
memperoleh data respon peserta didik, maka digunakan teknik angket, dimana
teknik ini dilakukan untuk memperoleh respon peserta didik tentang bagaimana
tanggapan mereka soal model pembelajaran yang diterapkan. Instrumen yang
digunakan untuk teknik angket adalah lembar angket. Lembar angkeet yang telah
disusun oleh peneliti kemudian dibagikan kepada peserta didik untuk diisi,
setelah mengisi lembar angket tersebut, kemudian peserta didik mengumpulkan
kembali lembar angket yang telah diisi kepada peneliti.
b.
Teknik Pengolahan Data
Pengolahan
data dilakukan setelah pengumpulan data selesai, data yang dimaksud adalah data
aktivitas siswa melalui lembar observasi, data hasil kemampuan siswa melalui
nila pretest dan posttest dalam lembar tes, dan data respon siswa melalui
lembar angket. Pengolahan data yang dilakukan peneliti terbagi menjadi tiga,
yaitu:
1) Dari
rumusan masalah pertama peneliti mengolah data aktivitas peserta didik dalam
proses pembelajaran mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script dengan langkah-langkah
yang penulis lakukan sebagai berikut:
a. Mengumpulkan
data aktivitas peserta didik dalam mengamati objek yang akan dilaporkan pada
proses pembelajran mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model pembelajaran
Cooperative Script;
b. Mengklasifikasi
data hasil aktivitas peserta didik dalam mengamati objek yang akan dilaporkan
pada proses pembelajaran mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model
pembelajaran Cooperative Script.
c. Menganalisis
data aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran mengkonstruksi teks
cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative
Script.
d. Menyimpulkan
data aktivitas peserta didik.
2) Dari
rumusan yang kedua peneliti mengolah data kemampuan peserta didik melalui
pretes dan postes. Pengolahan data yang peneliti lakukan dalam mengolah data pretes
dan postes yang berupa data kuantitatif yaitu menggunakan teknik pengolahan
data kuantitatif deskriptip. Teknik pengolahan data kuantitatif deskriptif dimaksudkan
untuk mengetahui hasil nilai pretes dan postes peserta didik yang mana dari
hasil keduanya diperbandingkan dengan menghitung jumlah rata-rata menggunakan
rumus mean, sehingga diperoleh data hasil kesimpulannya. Lalu selanjutnya dari
hasil kesimpulan tersebut, peneliti akan menjabarkan data yang diperoleh,
sehingga data tersebut bisa dipahami secara sederhana.
3) Dari
rumusan yang ketiga Peneliti mengolah data terkait hasil respon siswa terhadap pembelajaran
menulis teks cerpen menggunakan model pembelajaran Cooperative Script yang telah disajikan dalam instrumen lembar
angket.
Adapun
langkah-langkah analisisnya adalah sebagai berikut:
a. Mengumpulkan
lembar angket yang telah diisi oleh siswa;
b. Mengklasifikasikan
hasil angket;
c. Menganalisis
hasil angket;
d. Menyimpulkan
hasil angket.
J.
Instrumen
Penelitian
1.
Lembar
Observasi
Instrumen
observasi kemampuan siswa dalam mengkonstruksi teks cerpen menggunakan model
pembelajran Cooperative Script di kelas XI MAS SIRNAMISKIN Bandung Tahun Pelajaran 2017/2018.
Tabel I. Lembar Observasi
Aktivitas Siswa.
No.
|
Kriteria
|
Aspek yang
Dinilai
|
Ada
|
Tidak
Ada
|
1.
|
Visual
activities
|
Membaca
|
||
Memerhatikan Gambar Demontrasi
|
||||
Percobaan
|
||||
Pekerjaan Orang Lain
|
||||
2.
|
Oral
activities
|
Menyatakan
|
||
Merumuskan
|
||||
Bertanya
|
||||
Memberi saran
|
||||
Mengeluarkan pendapat
|
||||
Mengadakan wawancara
|
||||
Diskusi
|
||||
Interupsi
|
||||
3.
|
Listening
activities
|
mendengarkan
uraian
|
||
Mendengarkan percakapan
|
||||
Diskusi
|
||||
Mendengarkan musik
|
||||
Mendengarkan pidato
|
||||
4.
|
Writing
activities
|
Menulis
cerita
|
||
Karangan
|
||||
Laporan
|
||||
Angket
|
||||
Menyalin
|
||||
5.
|
Drawing
activities
|
Menggambar
|
||
Membuat
grafik
|
||||
Peta
|
||||
Diagram
|
||||
6.
|
Motor activities
|
Melakukan
percobaan
|
||
Membuat
kontruksi
|
||||
Model
mereparasi
|
||||
Bermain
|
||||
Berkebun
|
||||
Beternak
|
||||
7.
|
Mental
activities
|
Menanggapi
|
||
Mengingat
|
||||
Memecahkan
soal
|
||||
Menganalisis
|
||||
Melihat
hubungan
|
||||
Mengambil
keputusan
|
||||
8.
|
Emotional
activities
|
Menaruh
minat
|
||
Merasa
bosan
|
||||
Gembira
|
||||
Bersemangat
|
||||
Bergairah
|
||||
Tenang
|
||||
Gugup
|
||||
Berani
|
2.
Lembar
Tes
No
|
Kompetensi Dasar
|
Indikator
|
|
1
|
4.9 Mengkonstruksi
Teks Cerpen dengan memerhatikan unsur pembangun cerpen.
|
·
Mengidentifikasi cerpen dengan memerhatikan unsur-unsur pembangun
cerpen
·
Menyusun kembali cerpen dengan memerhatikan unsur-unsur pembangun
cerpen
|
Tabel II. Lembar Penilaian Pretes dan Postes Pengetahuan Siswa
No.
|
Instrumen Soal
|
Pretes
|
Postes
|
||||
Pengetahuan
|
Pengetahuan
|
||||||
1
|
Apa
yang dimaksud dengan unsur pembangun cerpen.
|
||||||
2
|
Sebutkan
apa saja unsur-unsur pembangun cerpen.
|
||||||
3
|
Jelaskan
nilai-nilai kehidupan dalam cerpen.
|
||||||
Jumlah
|
|||||||
Tabel III. Lembar Penilaian
Pretes dan Postes Keterampilan Siswa
No.
|
Aspek Penilaian
|
Pretes
|
Postes
|
||||
Keterampilan
|
Keterampilan
|
||||||
1
|
Struktur
teks cerpen
|
||||||
2
|
Kesesuaian
isi teks cerpen dengan topik yang diberikan.
|
||||||
3
|
Ketepatan
pemakaian kaidah kebahasaan pada teks cerpen.
|
||||||
Jumlah
|
|||||||
3.
Lembar
Angket
Instrumen
angket penelitian respon siswa kelas VIII terhadap penggunaan media iklan audio
visual dalam menulis teks persuasi. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan
kualitatif deskriptif.
Nama
: …………………
Kelas
: …………………
Pilihlah
jawaban dari pertanyaan di bawah ini dengan (√) jika “iya” dan (X) jika
“tidak”.
Tabel IV. Lembar
Angket.
No.
|
Kriteria
|
Pertanyaan
|
Ya
|
Tidak
|
1
|
Kepuasan
merespon
|
· Saya senang menulis cerpen menggunakan model
Pembelajaran Cooperative Script.
|
||
·
Penerapan
model pembelajaran Cooperative Script
dalam menulis teks cerpen membuat suasana kelas lebih menyenangkan dan tidak
membosankan
|
||||
2
|
Kemauan untuk
merespon
|
· Saya bisa membuat tulisan yang baik dengan
menggunakan model
pembelajaran Cooperative Script.
|
||
·
Dengan
model pembelajaran Coopeerative Script
ini saya lebih mudah untuk menentukan judul, tema dan kalimat yang akan
ditulis
|
||||
3
|
Kesudian untuk
merespon
|
· Dengan model pembelajaran Cooperative Script saya tidak merasa kesulitan membuat teks cerpen.
|
||
·
Dengan
dengan model pembelajaran Cooperative
Script mengubah pardigma saya dalam menulis teks cerpen.
|
K. Rancangan Penelitian
Agar penelitian dilakukan
dengan dengan sistematis, peneliti telah membuat susunan rancangan penelitian,
seperti di bawah ini:
No.
|
Kegiatan
|
Jan
|
Feb
|
Mart
|
April
|
Mei
|
1
|
Studi pustaka
|
ü
|
||||
2
|
Menentukan judul
|
ü
|
||||
3
|
Daftar ujian proposal
|
ü
|
||||
4
|
Ujian proposal
|
ü
|
||||
5
|
Daftar bimbingan skripsi
|
ü
|
||||
6
|
Menentukan bimbingan
skrikpsi
|
ü
|
||||
7
|
Bimbingan skripsi
|
ü
|
||||
8
|
Penelitian di lapangan
|
ü
|
||||
9
|
Bimbingan skripsi
|
ü
|
||||
10
|
Daftar siding
|
ü
|
||||
11
|
Sidang skripsi
|
DAFTAR PUSTAKA
Arifin
Zaenal 2011. Evaluasi Pembelajaran.Bandung. PT. Remaja Rosdakarya
Esten,
Mursal.2000. Kesustraan: Pengantar Teori dan Sejarah. Bandung:
Angkasa
Angkasa
Hayati
Tuti, (2014). Pengantar Statistika Pendidikan. Bandung. CV. INSAN MANDIRI.
Suherli,
dkk 2017, Bahasa Indonesia. Ktibang.Kemendikbud
A.M.
Sardiman. 2016. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarata. PT.
Raya Grafindo Persada
Sugiyono
2015. Metode Penelitian Pendidikan.Bandung. Alfabeta
Taniredja
Tukiran. (2013). Model-model Pembelajaran
Inovatif & Efektif. Bandung. Alfabeta.
Thahar
Harris. 1999. Kiat Menulis Cerita Pendek.
Bandung : Angkasa
Uno Hamzah 2012,
Pretest dan Postes: (http://www.riyanpedia.com/2017/01/pengertian-pre-tes-dan-post-tes-dalam-pembelajaran.html,
diakses tanggal 11 februari 2018)
Iskandar,
(2013). Metodologi Penelitian Pendidikan
& Ilmu Sosial.Jakarta. Referensi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar